PondokBuntet Pesantren Cirebon; Pondok Pesantren Ilmu Al Qur'an; Ma'had Qudsiyyah Kudus; (Kumpulan Kajian Islam Tausyiah MP3 Cerita Hikmah Nasyid dan Radio Online) EDISI KHUSUS KAJIAN ISLAM AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH BERSAMA HABIB NOVEL BIN MUHAMMAD ALAYDRUS. 2 Pemahaman keluarga terhadap nilai dan misi pesantren sangat beragam. 3. Idealisme keturunan/keluarga belum tentu sesuai dengan pondok. Hal ini akan dapat mengganggu misi atau cita-cita pondok. Oleh sebab itu Gontor adalah aset Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia bahkan Dunia. Karena Gontor telah diwakafkan untuk Ummat Islam. InovasiPendidikan Pondok Pesantren Al Hikmah 2 Dalam Membekali Santri Untuk Membekali Santri Untuk Menghadapi Modernisasi kyai atau ustadz membuat catatan-catatan khusus atau pehatian khusus sehingga santri menuntut ilmu secara bersungguh-sungguh karena merasa diawasi dan di monitor perkembangan kemampuannya. 3. Metode musyawarah/Bahtsul PondokPesantren Roudhotut Tolibin asuhan K.H. Minan Zuhri, dimana Kang Masrukhan mempelajari berbagai jenis Ilmu Hikmah, fiqh, salafiyah, tauhid dan ilmu warisan Raden Asnawi. Pondok Pesantren Manarul Huda asuhan K.H. Abdullah Khafidz, Kyai Hamzah Nawawi, dan Kyai Syaiful Hadi, dimana Kang Masrukhan mempelajari ilmu-Ilmu Hikmah, ilmu kitab SholawatTausi' => Khusus Untuk Penglarisan / Melancarkan RAHASIA AHLI HIKMAH SEJATI PONDOK PESANTREN " AL-MUBTADI'IN " Sk menkumham no.AHU 0016543.AH.01.04 TAHUN 2016 Alamat : kp garogol ILMU PENARIK JODOK CEPAT. ILMU TARIK JODOH PONDOK PESANTREN " AL-MUBTADI'IN " Sk menkumham no.AHU 0016543.AH.01.04 TAHUN 2016 Alamat : kp PondokPesantren Al-Hikmah Bandar Lampung; Pondok pesantren Al-Hikmah merupakan salah satu pondok pesantren salafiyah yang terletak di Lampung atau lebih rincinya di Jalan Sultan Agung Gang Raden Saleh Raya No.23, Kedaton, Kecamatan Kedaton, Kota Bandar Lampung, Lampung dan didirikan oleh K.H. Muhammad Sobari pada tahun 1989. Khususuntuk ilmu halimunan, sejatinya orangnya tidaklah menghilang. Hanya saja, ia tidak nampak di mata orang lain. « Kesaksian Pertaubatan Mudir Pondok Pesantren Darul Falah Es Salafy akan kesesatan Ilmu Hikmah (Hizb Ashror) Pertobatan Seorang Praktisi Tenaga Dalam dan Ilmu Ghoib » guru saya juga slalu berpesan tuk tidak mengunakan 3bulan yang lalu / Donasi Pembebasan Lahan Untuk Pondok Pesantren Nurul Hikmah transfer ke Rekening BRI 123501008575502 a/n Untuk Menghafal al-Qu'ran Dan Kajian Ilmu Agama Madzhab Ahlussunnah Wal Jama'ah Asy 'ariyyah Maturidiyyah. Jl. Karyawan 3 RT 04 RW 09 Karang Tengah Tangerang Banten Menghafal al-Qur'an secara khusus diampu Sehinggapada tahun 2004 Koppontren al hikmah telah melakukan pembaharuan dokumen-dokumen (surat-surat berharga) lainnya yaitu : 1) Surat Keterangan terdaftar dari Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pajak dengan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) -525.000 tanggal 24 September 2004. Santriyang bermukim di Pondok Pesantren Al-Falah Putri Ploso umumnya terbagi menjadi 2 macam, yakni santri formal dan santri salaf. Santri formal ialah santri yang datang untuk mencari ilmu kitab di pondok pesantren serta mengikuti pendidikan formal di sekolah di tingkat SMP/MTs dan SMA/MA. cgKgO. DASAR PEMIKIRANPara santri dan santriawati adalah cerminan dan kelompok yang bertakhasus dalam mempelajari ilmu syar’i agar bisa menjadi penyeru bagi kaumnya, yakni masyarakatnya, sebagaimana disinyalir Allah SWT dalam Al-Qur’an“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi ke medan perang mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan, di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri.” QS. At-Taubah 122Pesantren adalah Lembaga Pendidikan Islam yang memiliki peran yang sangat strategis dalam prospek pengembangan indipidu yang berkualitas inletektual, emosional dan spiritual. Allah berfirman“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, “Ya Tuhan kami, tiadahlah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka.” QS. Ali Imran 190-291Santri adalah manusia yang terbaik dalam ummat Rasulullah SAW, sebagaimana diisyaratkan dalam sebuah hadits“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”PENGERTIANPesantren adalah Lembaga Pendidikan Islam yang bercirikan adanya Kyai, pondokan dan santri yang mukim. Secara umum pesantren dibagi menjadi dua bagian yaituPesantren tradisional kuno adalah pesantren yang berbasis pada islam tradisional, sehinggal sifat tradisionalnya begitu jelas terbaca pada kultur, sistem, kepemimpinan, nilai, kurikulum dan metode Modern adalah pesantren yang muncul sebagai kritik terhadap pesantren tradisional, dampak pembaharuan di indonesia dan sekaligus upaya responsif terhadap perkembangan melihat dan menelaah kedua model pesantren tersebut, maka Pesantren Darul Hikmah Bekasi adalah bentuk pesantren modern yang memadukan beberapa ciri pesantren tradisional. Beberapa kriteria berikut yang kami padukan dari pesantren modern dan tradisionalMemberi kebebasan kepada para santrinya untuk bermazhab apa saja selama tidak sesat, dengan didasari dalil yang lebih kuat dalam mengambil pelatihan organisasi, managemen dan pengembangan pembaharuan, perubahan, tidak jumud, tidak figuritas dengan kultur pendidikan klasikal, kenaikan kelas, jenjang pendidikan yang jelas dan ijazah pesantren sebagai tuntunan para santri yang ingin mendapat pengakuan formal dari diajarkannya dengan menggunakan pelajaran bahasa asing, selain bahasa ciri pesantren kuno seperti keharusan memakai sarung, peci dalam shalat terutama maghrib, isya dan shubuh, membaca kitab sorogan di depan kyai atau Mencetak generasi yang Faqih dan Qur’aniMISI– Melaksanakan pembelajaran yang islami bagi guru dan santri dengan kurikulum yang terpadu.– Menjadikan santri para penghafal seluruh atau sebagian al-Qur’an.– Mengembangkan potensi para santri/santriawati berdasarkan Emosional, Intelektual, spritual dan Fisikal.– Meningkatkan kemampuan santri/santriawati dalam berbahasa Arab dan dan SasaranPesantren memiliki tujuan yang secara esensial, adalah tujuan pendidikan islam itu sendiri, yaitu mewujudkan manusia yang mampu merealisasikan ubudiyah kepada Allah dalam kehidupan pribadi dan msyarakat serta agar menjadi manusia yang mampu menjalankan fungsi dan oerannya sebagai khalifah di muka pendidikan di pesantren tersebut dapat diperinci dalam sasaran umum dan khusus. Secara umum tujuan pendidikan di pesantren adalahPembentukan kepribadian dai yang handalAdapun tujuan khususnya adalah membentuk santri yang memiliki karakteristik sebagai berikutBersih aqidahnya Salimul aqidahShahih ibadahnya shahihul ibadahKokoh kepribadian/akhlaknya matinul khuluqKuat fisiknya qawiyul jismTajam/terdidik pemikirannya mutsaqqoful fikrEfisien mengatur waktunya haris ala waqtihMampu berusaha dan mandiri qadir alal kasbBermanfaat bagi sesama nafi’ li ghairihProfesional dalam segala urusan munadzomun fi Syu’unihBersungguh-sungguh dalam segala urusan mujahidun Li NafsihiDengan sasaran seperti yang tercantum di atas, diharapkan setelah menyelesaikan tugas belajarnya di pesantren, santri memiliki sifat Tafaqohu fiddin yakni memiliki pemahaman aqidah yang benar yang menyeluruh sehingga mampu menjadi lambang kekuatan dan mampu mereformasi diri dan lingkungannya melalui gerakan dakwah yang terorganisasi menuju kepembaharuan islam yang memiliki target sebagai berikutMembentuk kepemimpinan opini publik yang iklim yang kondusif di dunia islam untuk eksistensi dan sasaran pendidikan pesantren tersebut dapat direalisasikan sesuai dengan orientasi pendidikan di pesantren. Pesantren adalah lembaga strategis bagi kaderisasi SDM. Dengan kata lain merupakan suatu lembaga untuk mewujudkan manusia yang shalih menurut pandangan islam dengan dua bentuk spesialisasi ulama dalam bidang syariat dan ulama dalam bidang ilmu PesantrenKurikulum yang diterapkan di kepesantren-an YAPIDH adalah kurikulum pelajaran-pelajaran ilmu-ilmu syar’i yang mengacu kepada buku-buku salaf yang berbahasa Arab yaitu sebagaimana yang diberlakukan di Pondok Pesantren Darul Hikmah FORMAL1 Fiqih Buku pelajaran formal di Arab Saudi2 Hadits Buku pelajaran formal di Arab Saudi3 Tafsir Buku pelajaran formal di Arab Saudi4 Nahwu an-Nahwul Wadhih5 Shorof amtsilah Tashrifiyyah6 Bahasa Arab al-Arobiiyah lin Nasyiin7 Imla’ dan Khoth8 Ulumul Qur’an9 Siroh Nabawiyyah Fiqih Siroh karya ramadhan al-Buthi10 Tarikh Sahabat dan Khulafa’ Buku terbitan Yapidh11 Ushul Fiqih Buku ushul fiqih karya Utsaimin12 Balaghah al balaghah al wadhihah13 Ulumul Hadits taysir Mushtolah Hadits NON FORMAL1 Safinatun Najah Fiqih2 Taqrib Fiqih3 Kifayatul Akhyar Fiqih4 Fiqih Nisa Fiqih5 Ta’limul Muta’allim6 Minhajul Muslim7 Syarah Arbain NawawiSelaian mata pelajaran yang sifatnya formal, para siswa masih mendapat pelajaran yang sifatnya ekstrakurikuler, seperti Mentoring, Komputer, Kepanduan, Beladiri, Bimbingan Belajar, Khitobah, Nasyid, Drama, kaligrafi dan Lingkup KegiatanSemua pesantren pasti memiliki ruang lingkup kegiatan atau dalam kata lain disebut “kegiatan sehari-hari”. Begitu juga dengan pondok Pesantren Darul Hikmah Bekasi yang memiliki kegiatan yang relatif padat, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagian bawahJadwal kegiatan – Bangun Shalat – Shalat Subuh dan Tahfidz Qur’ – Pemberian Mufrodat atau – Istirahat, Olah Raga, Sarapan dan – Proses KBM di – Shalat Dzuhur dan Makan – Proses KBM di – Shalat Ashar dan – Mandi dan Makan – Shalat Maghrib dan Tahfidz Qur’ – Shalat Isya dan Kajian Kitab – Belajar Mandiri Murajaah – Persiapan – Istirahat Panjang 6. Kondisi Asrama– Asrama di pesantren menggunakan sistem hidup bersama dalam satu ruangan– Menggunakan ranjang bertingkat, untuk dua orang.– Tiap kamar berisi antara 14 sd 20 orang dengan ukuran ruangan 6 x 7 m– Tiap kamar akan dibimbing oleh wali ghurfah7. Pengurus PesantrenMudir Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, Pesantren Dan Dakwah Sosial Maftuh Asmuni, Santri Ikhwan Umar Ahzami, Lc. Wali santri Akhwat Dadah Kholidah, Ilmu tafsir merupakan salah satu cabang ilmu dalam Islam yang memiliki kedudukan mulia nan luhur, serta sangat penting. Dalam diskursus peradaban Islam, ilmu tafsir merupakan media terbaik untuk memahami makna dan kandungan Al-Qur’an secara utuh dan benar. Bahkan, dalam sejarahnya, ilmu tafsir memiliki perjalanan yang sangat panjang hingga para ulama menulisnya dengan teliti, kemudian disusun dengan sangat sistematis. Definisi Ilmu TafsirSebelum dijelaskan rangkaian sejarahnya, ada pentingnya bagi penulis untuk menjelaskan definisi ilmu tafsir terlebih dahulu. Dengannya, kita akan mengetahui ruang kajian ilmu tersebut dalam Islam, serta memiliki pemahaman yang lebih dalam tentangnya. Imam Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiquddin, Jalaluddin as-Suyuthi wafat 911 H, dalam Itmamud Dirayah mendefinisikan ilmu tafsir sebagai berikut, “Ilmu tafsir adalah sebuah metodologi tentang cara memahami Al-Qur’an. Metodologi itu mencakup hal-hal penting yang ada dalam Al-Qur’an, mulai dari, 1 sebab-sebab diturunkannya; seperti ayat Makkah makiyah, ayat Madinah madaniyah, ayat perjalanan safari ayat perumahan hadari ayat yang diturunkan pada malam hari layali, begitu juga ayat yang diturunkan pada siang hari nahari; 2 sanadnya, seperti mutawatir, ahad sampai riwayat yang syad; 3 lafalnya, seperti huruf mad, idgham, idhar dan lainnya; 4 makna ayatnya, seperti ayat yang menunjukkan majaz, hakikat, muradif, musytarak dan lainnya; dan 5 hukumnya, seperti hukum-hukum yang umum dan husus, nasakh-mansukh dan lainnya.” as-Suyuthi, Itmamud Dirayah li Qurra-in Nuqayah, [Bairut, Darul Kutubil Ilmiah, cetakan pertama 1985, tahqiq Ibrahim al-Ajusi], halaman 20. Berdasarkan definisi di atas, dapat dipahami bahwa wilayah kajian ilmu tafsir adalah mencakup semua pembahasan Al-Qur’an secara tematik dan sistematis. Tidak ada satu ayat pun yang ada dalam Al-Qur’an tidak dibahas dalam ilmu tafsir, semuanya dibahas secara terperinci dan detail. Sejarah Pembukuan Ilmu TafsirPada abad pertama Islam masa Nabi Muhammad dan para sahabat, belum ditemukan pembahasan dan pembukuan ilmu tafsir dengan semua ketentuannya. Ketika Nabi Muhammad masih hidup, para sahabat memiliki referensi yang sangat otoritas, yaitu Rasulullah. Semua permasalahan tentang Al-Qur’an langsung diputuskan olehnya berdasarkan wahyu ilahi yang diturunkan kepadanya. Darinya, penjelasan Rasulullah kepada para sahabat perihal Al-Qur’an tidak membutuhkan ilmu tafsir, karena sudah dicukupkan dengan wahyu yang turun kepadanya. Begitu juga pada masa sahabat. Belum ditemukan ilmu-ilmu yang membahas secara khusus tentang Al-Qur’an. Pemahaman dan cara baca mereka masih kuat dan utuh dengan mengacu pada penjelasan Rasulullah secara langsung saat bersamanya. Tidak hanya itu, di samping mereka juga melihat historis sebab-sebab ayat yang diturunkan asbabun nuzul kepada Rasulullah saat itu, mereka juga memiliki acuan secara khusus, yaitu Rasulullah, perihal cara yang benar dalam mengartikan ayat. Oleh karenanya, ilmu tafsir pada masa sahabat belum dibahas karena saat itu memang tidak dibutuhkan. Seiring berjalannya waktu, pasca-generasi sahabat, penyebaran Islam yang semakin luas, dan banyaknya pemeluk Islam yang semakin beragam; dari berbagai bangsa dengan tipikal sosial dan geografis yang plural, terjadilah asimilasi bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lainnya. Akibatnya, banyak umat Islam yang memahami Al-Qur’an dengan serampangan tanpa metode dan tanpa ilmu. Mereka hanya bermodalkan rasionalitas yang cenderung memiliki kesalahan. Dari sinilah, metodologi memahami dan cara membaca Al-Qur’an mulai dibutuhkan. Tepat pada abad kedelapan, Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Umar bin Ruslan al-Bulqini lahir 762 – wafat 824 H menulis dan membukukan ilmu tafsir, yang kemudian dikenal dengan kitab Mawaqi’ul Ulum min Mawaqi’in Nujum. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Sayyid Alawi bin Sayyid Abbas al-Maliki. Ia mengatakan وَهُوَ عِلْمٌ نَفِيْسٌ لَمْ أَقِفْ عَلَى تَأْلِيْفٍ فِيْهِ لِاَحَدٍ مِنَ الْمُتَقَدِّمِيْنَ، حَتَّى جَاءَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ جَلَالُ الدِّيْن البُلْقِيْنِي، فَدَوَّنَهُ وَنَقَّحَهُ وَهَذَّبَهُ وَرَتَّبَهُ فِي كِتَابٍ سَمَّاهُ مَوَاقِعُ الْعُلُوْمِ مِنْ مَوَاقِعِ النُّجُوْمِ Artinya, “Ia ilmu tafsir merupakan ilmu berharga, tidak aku ketahui suatu kodifikasi tentangnya ilmu tafsir, bagi salah satu ulama mulai dari zaman dahulu, sehingga Syaikhul Islam Jalaluddin al-Bulqini datang, kemudian mengodifikasikannya, memperluas pembahasannya, membenarkan dan menyususnnya, dalam suatu kitab yang menamainya dengan kitab Mawaqi’ul Ulum min Mawaqi’in Nujum.” Sayyid Alawi al-Maliki, Faidhul Khabir wa Khalashatut Taqrir ala Nahjit Taisir, [al-Haramain], halaman 9. Ungkapan senada juga disampaikan oleh Imam as-Suyuthi. Menurutnya, adanya ilmu tafsir memang sangat dibutuhkan oleh semua umat Islam, bahkan ia menegaskan bahwa di antara bentuk tidak adanya empati para ulama kepada umat Islam secara umum adalah membiarkan Al-Qur’an dipahami dengan serampangan, hal itu karena tidak adanya kodifikasi kitab secara khusus yang memberikan pedoman untuk membaca dan memahami Al-Qur’ Al-Itqan fi Ulumil Qur’an, As-Suyuthi mengatakan وَإِنَّ مِمَّا أَهْمَلَ المُتَقَدِّمُوْنَ تَدْوِيْنَهُ، حَتَّى تَحَلَّى فِي آَخِرِ الزَّمَانِ بَأَحْسَنَ زِيْنَةٍ، عِلْمِ التَّفْسِيْرِ الَّذِي هُوَ كَمُصْطَلَحِ الْحَدِيْثِ، فَلَمْ يُدَوِّنْهُ أَحَدٌ لَا فِي الْقَدِيْمِ وَلَا فِي الْحَدِيْثِ حَتَّى جَاءَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ البُلْقِيْنِي Artinya, “Dan sungguh, termasuk dari bagian ilmu yang dilalaikan oleh ulama klasik untuk mengodifikasikannya, sampai nampak jelas di akhir zaman, dengan bentuk yang paling baik, yaitu ilmu tafsir, ia bagaikan ilmu musthalah hadits, maka tidak ada seorang ulama pun yang mengodifikasikannya, baik ulama klasik maupun kontemporer, sampai datang Syaikhul Islam al-Bulqini.” Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqan fi Ulumil Qur’an, [Haiatul Mishriah lil Kitab, cetakan pertama 1974, tahqiq Muhammad Abul Fadl Ibrahim], juz 1, halaman 21. Dari penjelasan di atas sangat jelas, bahwa Imam al-Bulqini selain sebagai salah satu fuqaha yang sangat disegani pada masanya. Ia juga menjadi salah satu pembaharu mujaddid Islam pada abad kedelapan. Jejak yang ia tinggalkan di antaranya, adalah kitab-kitab fiqih yang yang pernah ia tulis. Selain itu, ia juga meninggalkan jejak yang sangat berharga, yaitu ilmu tafsir. Dengan adanya sumbangsih yang sangat berharga ini, potensi-potensi kesalahpahaman perihal Al-Qur’an lebih berkurang. Perkembangan Ilmu TafsirLahirnya Imam Al-Bulqini tentu memberikan kebanggan tersendiri bagi umat Islam, sebagai bukti bahwa ilmu-ilmu Allah akan semakin luas jika ditela’ah lebih mendalam. Di saat yang sama, umat Islam tidak memiliki pedoman secara khusus dalam mengartikan Al-Qur’an dengan benar, al-Bulqini lahir sebagai sosok yang memberikan jalan terang untuk menghindari kesalahan dalam mengartikan dan membaca Al-Qur’an. Setelah Imam al-Bulqini sukses dalam menuliskan kitab secara khusus yang menjelaskan ilmu tafsir, ia mendapatkan sambutan hangat dan tepuk tangan yang sangat meriah dari para ulama saat itu dan setelahnya, bahkan sampai saat ini. Ilmu tafsir yang ditulis olehnya, memiliki perkambangan yang sangat pesat. Hal itu sebagaimana penuturan Sayyid Alawi al-Maliki وَهَكَذَا كُلُّ مُسْتَنْبِطٍ، يَكُوْنُ قَلِيْلًا ثُمَّ يَكْثُرُ وَصَغِيْرًا ثُمَّ يَكْبَرُ Artinya, “Demikian perkembangan semua kodifikasi ilmu tafsir pada mulanya berupa kitab yang kecil dan ringkas, kemudian berkembang menjadi banyak dan padat.” Sayyid Alawi al-Maliki, Faidhul Khabir wa Khalashatut Taqrir ala Nahjit Taisir, halaman 10. Tidak hanya itu, al-Bulqini juga menjadi teladan bagi para ulama saat itu, bahkan setelahnya, untuk mengodifikasikan kitab-kitab yang menjelaskan ilmu tafsir lainnya, di antaranya adalah murid beliau, Imam Jalaluddin as-Suyuthi. Beliau menulis dua kitab ilmu tafsir yang sangat populer, yaitu 1 at-Tahbir fi Ilmit Tafsir; dan 2 al-Itqan fi Ulumil Qur’an. Dua kitab yang menjelaskan ilmu tafsir secara luas ini, tidak lepas dari sumbangsih Imam al-Bulqini. Tidak sedikit as-Suyuthi mengikutip perihal cara-cara gurunya dalam menulis ilmu tafsir. Syekh Muhammad Ali asy-Syaukani al-Yamani wafat 1250 H, menulis ilmu tafsir dengan nama kitab Fathul Qadir al-Jami’ baina Fannai Riwayah wad Dirayah min Ilmit Tafsir. Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, juga menulis kitab ilmu tafsir dengan nama Faidhul Khabir wa Khalashatut Taqrir ala Nahjit Taisir, dan beberapa ulama lainnya. Alhasil, dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut, 1 pada tahap pertama, tepatnya pada masa Rasulullah, belum ditemukan pengodifikasian ilmu tafsir, karena saat itu, para sahabat memiliki referensi yang sangat otoroitas, yaitu Rasulullah, sehingga mereka tidak membutuhkan ilmu tafsir untuk memahami Al-Qur’an; 2 pada tahap kedua, tepatnya pada masa sahabat, juga belum ditemukan pengodifikasian ilmu tafsir, karena saat itu mereka memprioritaskan Al-Qur’an dan hadits Rasulullah, serta mengacu pada nash Al-Qur’an dan hadits yang mereka pahami. Tahap pertama dan kedua terus berlanjut sampai pada abad ke-7 dan ke-8, tepatnya pada masa Imam al-Bulqini; 3 pada tahap ketiga ini, Imam al-Bulqini menjadi pionir dalam melakukan kodifikasi ilmu tafsir; dan 4 pada tahap keempat ini, serta sejalan dengan perkembangan zaman, kodifikasi ilmu tafsir sudah mulai mencapai kesempurnaan, hal itu ditandai dengan munculnya murid Imam al-Bulqini, yaitu Imam as-Suyuthi, yang juga berhasil menulis dua kitab khusus perihal ilmu tafsir. Dengan demikian, umat Islam memiliki acuan dalam membaca dan memahami Al-Qur’an. Sunnatullah Sepintas, dunia diplomasi dan dunia pesantren seolah merupakan dua dunia yang berbeda. Hampir tak terbayangkan bahwa dua dunia itu ternyata bisa bertaut dan menyatu. Namun demikianlah yang terjadi. Kesempatan langka ini terwujud berkat kegiatan diklat Sekolah Staf Dinas Luar Negeri Kementerian Luar Negeri, yang mana total sejumlah 36 orang peserta diterjunkan ke lingkungan Pesantren Gontor yang namanya telah tersohor. Sebanyak 18 orang diplomat muda laki-laki ditempatkan mengajar mengenai diplomasi dan isu-isu internasional di pondok Gontor khusus laki-laki yang terletak di Ponorogo, sekaligus lokasi dari kampus pusat Universitas Darussalam UNIDA Gontor. Sedangkan kami, 18 orang diplomat muda perempuan, ditugaskan dengan mandat serupa di pondok pesantren khusus putri Gontor, Mantingan, Ngawi. Saya adalah salah satu dari Ngawi terletak 2 jam perjalanan berkendara dari kota Solo. Setibanya di sana, kesan pertama yang sangat terasa adalah panas terik mataharinya yang sangat menyengat. Namun panasnya udara saat itu perlahan berganti dengan hembusan kedamaian ketika memasuki gerbang Pondok Gontor. Saat itu hari Jumat, dan pondok ramai dengan kunjungan para orang tua yang merindukan anak-anaknya yang sedang berjuang menuntut ilmu di pondok modern itu. Beberapa gazebo hijau yang berjajar dan gelaran tikar orang-orang di depan pintu gerbang, menampilkan raut bahagia orang-orang yang berbagi rasa setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan lamanya tidak bertemu. Pertemuan santriwati dengan keluarganya. Foto Din banyak hal yang dapat dipelajari dari kegiatan tinggal dan mengajar di pondok ini. Namun beberapa hal yang paling menonjol untuk dipelajari bagi kebanyakan orang dewasa seperti saya dan rekan-rekan atau bahkan masyarakat luas, antara lain kesederhanaan, keikhlasan, kerukunan, kedisiplinan dan semangat belajar yang tinggi. Kesederhanaan mungkin bukan hal yang sulit bagi banyak orang di negara berkembang seperti Indonesia, namun bagi sebagian kalangan, kesederhanaan barangkali justru bisa juga menjadi tantangan yang sangat menarik bagi sebagian orang. Banyak orang apalagi kaum muda telah terbiasa atau dibiasakan dengan penggunaan berbagai teknologi misalnya. Namun, teman-teman santriwati di pondok gontor harus terbiasa dengan kesederhanaan dimana ada pelarangan penggunaan telepon seluler, tidak hanya itu tapi juga pembatasan jumlah pakaian, dan hal lainnya. Mungkin ada banyak pro-kontra tentang pembatasan ini, karena saat ini telepon seluler dapat menjadi sarana untuk mendapatkan pengetahuan, namun di sisi lain, keberadaan telepon seluler dipandang juga memiliki mudharat apalagi jika digunakan oleh santriwati yang kesehariannya memiliki serangkaian kegiatan. Pembatasan pakaian antara lain ditujukan juga untuk pembiasaan santriwati mengurus diri sendiri, mengelola waktu dan tenaga untuk mencuci pakaiannya. Dengan terbiasa dengan kesederhanaan, mereka akan lebih mudah beradaptasi dengan kondisi seperti apapun. Kesederhanaan juga dapat meningkatkan semangat mereka untuk berjuang menjadi lebih baik. Bicara keikhlasan, tentu diperlukan para santriwati mengingat mereka tinggal dengan berbagai macam orang dengan latar belakangnya, sifat dan kebiasaan masing-masing. Ikhlas memahami orang lain, ikhlas beribadah, ikhlas melaksanakan tugas yang dibebankan, antara lain beberapa hal yang ditanamkan dalam benak para hanya para santriwati, para pengajar pun ternyata juga memiliki jiwa keikhlasan yang tinggi, ingin berbagi ilmu mengabdi sekaligus mendapatkan ridho dan barokah dari Yang Maha Kuasa tanpa perhitungan gaji tetap, berbeda dari sistem penggajian guru-guru di sekolah lain pada umumnya. Pondok pesantren merupakan salah satu ciri khas pendidikan di Indonesia, yang tidak diperoleh di negara lain. Banyaknya para santriwati dari berbagai suku dari berbagai daerah, serta perbedaan karakter mengajarkan bagaimana mereka dapat hidup bersama dengan rukun. Dalam pengaturan penempatan tinggal di asrama yang tiap ruangannya memuat sekitar 25 orang, diupayakan agar terdiri dari berbagai suku. Tidak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, pondok Gontor seringkali dikunjungi oleh para santri dari beberapa negara tetangga. Seperti Malaysia, Thailand. Pada hari pertama kunjungan kami berkesempatan bertemu dengan sekitar 20 orang santriwati asal Malaysia yang baru saja mulai mondok hingga awal bulan Ramadhan nanti. Bersama para santriwati dari Malaysia setelah kegiatan kuliah subuh. Foto Muhsinin dengan para mahasiswi Universitas Darussalam yang telah mengenyam pendidikan di pondok Gontor sejak lulus SD, beberapa orang menyampaikan “Pondok ini seperti rumah kedua bagi saya, lingkungan yang penuh persaudaraan membuat saya sangat betah tinggal disini”. Menjawab penasaran saya mengenai adanya orang-orang yang melarikan diri, para santriwati tidak menafikan adanya fakta tersebut, namun mereka menyampaikan adanya sebagian banyak yang ingin kembali karena rasa persaudaraan yang melekat. Kedisiplinan dan Semangat Belajar“Jika anda ingin beribadah sebanyak-banyaknya datanglah ke Mekkah. Jika anda ingin ilmu sebanyak-banyaknya datanglah ke Mesir. Jika anda ingin pendidikan sebanyak-banyaknya datanglah ke Gontor,” kalimat ini terpampang pada spanduk-spanduk di halaman pondok. Tidak salah, karena pondok modern Gontor memiliki berbagai mata pelajaran, baik terkait ilmu agama meliputi pemahaman tafsir, hadits, hingga hafalan Al Quran, maupun berbagai ilmu lainnya meliputi geografi, biologi dan berhitung. Pendidikan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris juga terlihat menonjol, dan dua bahasa asing ini wajib diterapkan sehari-hari dalam kegiatan mengajar maupun dalam percakapan antar santriwati. Bisa dibayangkan kan kelancaran bahasa asing mereka? Bahasa Indonesia hanya dapat digunakan oleh para santriwati yang baru masuk sebelum mereka mendapatkan pendidikan bahasa asing di pondok. Kedisiplinan tentunya juga menjadi ciri kehidupan di pondok pesantren yang harus dibiasakan oleh para santriwati dalam menaati peraturan. Sekalinya mereka melanggar, maka harus berhadapan dengan sanksi yang diterapkan, seperti menghafalkan ayat Al Quran sambil berdiri ketika datang terlambat. Persiapan ujian, para santriwati belajar dimanapun. Foto mereka belajar sangat terasa saat saya tinggal di pondok karena sedang masa ujian. Pemandangan anak-anak santriwati sedang belajar terlihat di sekeliling pondok. Mahasiswi lainnya, Din Rusyda Arini, menyampaikan kepada kami yang ingin tahu alasannya betah mengenyam pendidikan di Gontor selama 12 tahun, “Bagi saya pribadi, karena pondok selalu memberikan dan memfasilitasi kegiatan yang mengandung banyak pembelajaran, sehingga kami selalu haus untuk mendapatkan yang lebih banyak lagi dan lagi”.Mahasiswi jenjang universitas mempelajari simulasi sidang negosiasi multilateral PBB dari para Diplomat muda. Foto percakapan dengan para diplomat muda, tidak sedikit bahkan yang menunjukkan minatnya untuk melanjutkan studinya kelak di luar negeri untuk memperdalam ilmu kedokteran, ilmu teknik, atau lainnya, ada juga yang menyatakan ketertarikannya menjadi diplomat setelah lulus dari jenjang kuliah. Semangat belajar mereka menumbuhkan harapan akan masa depan Indonesia yang berada di tangan para generasi muda milenial terkini. Semoga mereka kelak menjadi pembangun bangsa yang berwawasan luas, bijaksana dan bermartabat.